Tidak ada postingan.
Tidak ada postingan.

APAKAH YANG ALLAH SWT KEHENDAKI DARI DIRI KITA?

Kita perlu bertanya: apakah yang dituntut oleh Allah SWT untuk kita laksanakan. Dengan perlaksanaan tuntutan Allah SWT ini kita akan meraih kejayaan. Allah SWT telah menjelaskan di dalam al Qur’an bahawa yang Allah kehendaki atas diri kita adalah kita berusaha menjadi mukmin dan mujahid. Seorang mukmin adalah ‘yang benar dan teguh dalam keimanan kepada Allah SWT. Mujahid pula adalah ‘yang berjuang atau berjihad, dengan apa jua yang dimilikinya, untuk memperolehi keredhaan Allah’.

Jika kita telah melayakkan diri menjadi mukmin dan mujahid, Allah SWT Yang Maha Berkuasa dan Maha Pengasih, akan membantu kita untuk terus meningkat ke stesen-stesen peningkatan diri yang lebih tinggi, di dunia dan di akhirat. Allah SWT telah menjanjikan perkara ini kepada mereka yang memiliki sifat dan kualiti iman and aktif melaksanakan jihad.

Di dalam surah al Hujurat, ayat 15, Allah SWT telah berfirman:

“Sesunggguhnya orang-orang yang beriman yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”

Anak-anak yang dikasihi! Kini kita telah jelas apakah misi hidup kita: menjadi mukmin dan mujahid. Dengan memulakan misi agung ini kita menyedari bahawa ilmu Islam sangat sedikit. Seringkali apabila kita ingin memulakan usaha untuk memperbaiki diri kita merasakan diri kita sangat lemah. Diri kita terlalu sayup dari kemuncak yang dihajati. Kita juga sedar bahawa kita tidak mampu untuk sampai ke kemuncak perhambaan (ubudiyyah) yang Allah SWT kehendaki. Rasa lemah dan ketidakmampuan sebegini adalah satu yang lumrah. Kita tidak boleh membenarkan rasa lemah dan serba kurang ini menjadi penghalang usaha kita untuk menghayati Islam sepenuhnya dan mencapai ketinggian keimanan yang sewajar menjadi misi hidup mukmin.

Kita perlu menjadikan setiap hari yang Allah SWT kurniakan kepada kita sebagai modal untuk kita berjihad bagi meningkatkan kualiti diri kita. Dengan azam yang kuat dan peluang yang Allah SWT kurniakan insyaAllah kualiti diri kita akan meningkat sehari demi sehari. Walaupun ada hari ini kita terasa kebekuan, tidak meningkat. Diri kita tetap sebagaimana semalam juga, malah selalu juga kita bukan setakat tidak meningkat tetapi merosot. Kita tidak boleh membiarkan realiti diri ini menghalang pendakian kita dalam mujahadah kita. Teruskan pendakian! Walaupun kemajuannaya amat lambat. Jangan berhenti! Hakikatnya kita sedang membangunkan kepatuhan dan penyerahan diri kita kepada Allah SWT dan yang menghalanginya adalah nafsu kita yang sebelum ini telah terlalu lama dilayani dengan apa jua yang dikehendakinya. Kita telah menuruti hawa nafsu yang datang dalam bentuk pelbagai kehendak sehingga timbul kesedaran untuk kembali kepada ubudiyyah yang sebenar dan mujahadah yang selama ini tidak diusahakan baru kita gerakkan. Usaha inilah yang dinamakan ‘tazkiyatun nafs’ atau penyucian diri.

Tazkiyah atau program rawatan dan pembangunan diri ini adalah satu proses yang akan dilalui langkah demi langkah secara ansur maju. Pembangunan diri tidak akan dapat dilaksanakan melalui satu lompatan. Diri kita tidak mungkin dapat dibersihkan dengan usaha sekelip mata. Janganlah kita sekali-kali mengharapkan perubahan diri berlaku dalam masa sehari, seminggu mahupun sebulan. Pembangunan dan penyucian diri ini akan mengambil masa yang lama kerana keseluruhan pembangunan ini berdasarkan perubahan dan penyucian HATI yang mengandungi segala kekuatan dan pusat keinsanan manusia. Segala sudut hati dan segala bentuk rasa/perasaan dalam hati perlu dirawat dan dibetulkan hubungannya dengan kehendak Allah SWT. Ini adalah kerana proses membangunkan iman itu adalah ‘PROSES MENYESUAIKAN DIRI UNTUK MENCINTAI APA YANG ALLAH CINTAI, DAN MEMBENCI APA YANG ALLAH BENCI’. Tahap rasa hati sebegini menuntut kesungguhan dan keteguhan diri untuk melalui proses tazkiyah ini.

Di dalam sirah Rasululllah SAW kita dapati apabila seseorang itu memeluk Islam, Rasulullah SAW tidak mempertanggungjawabkan atas diri untuk melakukan segala-galanya sekali gus. Sebaliknya Rasulullah SAW mentarbiyyah dia dengan apa yang difardhukan yang paling minima, dan seterusnya barulah dibangunkan di atas kekuatan amal yang fardhu ini dibangunkan yang melengkap dan menyempurnakannya.

Dalam proses penyucian dan pembangunan diri ini, apa yang perlu diberikan perhatian serius adalah cita-cita kita dan janji kita kepada Allah SWT sentiasa terpelihara.

Untuk kita kekal di dalam mujahadah ini kita perlu sentiasa ingat tawaran Allah SWT kepada mereka yang beriman dan kita perlu memperingatkan diri kita supaya sentiasa berusaha memenuhi syarat-syarat jual beli dengan Allah SWT ini. Selagi kita memelihara akujanji kita dengan Allah dalam jual beli ini maka kita akan sentiasan kekal dalam jalan kehidupan yang menuju keredhaan Allah SWT.

Allah SWT telah berfirman dalam Surat at Taubah, ayat 111:

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman, baik diri mahupun harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulahlah kemenangan yang agung”

Apabila kita telah menyerahkan diri kita kepada Allah SWT dengan iltizam (komitmen) yang tinggi, kita perlu berusaha bersungguh-sungguh untuk membelanjakan segala-gala yang kita miliki: masa,tenaga, harta dan sebagainya, dengan mengharapkan keredhaan Allah SWT semata-mata. Kita mungkin merasakan bahawa ini satu usaha yang SEMPURNA dan sesuatu yang sempurna sangat sukar untuk dicapai. Hakikat sukarnya mencapai kesempurnaan ubudiyyah dan kemuncak keimanan ini perlu FAHAMI dan DIINSAFI. Walaupun begitu kesempurnaan adalah sesuatu yang perlu direalisasi. Sekiranya kesempurnaan itu mudah dicapai maka ianya bukanlah kesempurnaan. Dengan kita sentiasa berusaha memelihara syarat jual beli kita dengan Allah SWT, melalui usaha membelanjakan masa, tenaga dan harta kita demi untuk mendapat redha Allah dan syurga-Nya, maka kita sentiasa di dalam jihad di jalan Allah. Melalui mujahadah inilah hati kita dapat kita rawat dan dibersihkan

Mengelola Iri Hati

Demikian pepatah yang sudah sering kita dengar. Sayangnya, walau kita semua telah mengerti betul arti pepatah itu, tetap saja godaan untuk iri senantiasa mengintai dari segala sisi.

Hidup ini memang penuh pembandingan. Apa saja bisa kita bandingkan, wajah kita ini, kepintaran kita, duit kita, juga berkilau tidaknya kendaraan kita. Wajar dalam hidup ini untuk membandingkan, karena tanpa itu kita tidak tahu dimana posisi pencapaian kita selama ini. Tentu saja sama dengan semua orang, terkadang saya juga iri hati.

Setelah direnungkan lebih dalam, ada tiga bentuk iri : iri positif, iri negatif, dan iri merusak (dengki).

Iri positif adalah perasaan iri karena orang lain telah mencapai sesuatu, yang menyebabkan kita merasa cemburu kenapa kita kok tidak berprestasi seperti itu? Ini jenis iri yang bisa menggerakkan orang untuk maju, ingin mencapai seperti apa yang diirikannya. Saya iri dengan kolega saya yang mencapai jenjang professor, saya iri dengan rekan saya yang bisnisnya terus berkembang, saya juga iri dengan mereka yang sudah ngaji di masjid sebelum adzan shubuh menggema (artinya mereka sudah shalat malam). Saya iri kepada semua itu, kenapa saya belum bisa seperti mereka? Kenapa saya masih seperti ini-ini saja?

Yang kedua adalah iri negatif, inilah kecemburuan karena orang lain memiliki sesuatu yang berakibat kita kehilangan rasa gembira dalam hati kita. Misalnya teman kita berbisnis dan sukses, dan kita tidak diajak. Kita sedih dan iri. Seringjuga kita iri melihat pasangan orang lain lebih cantik atau lebih tampan, rumahnya lebih besar, senang-senangnya lebih banyak, dan karirnya lebih cemerlang. Apa bedanya dengan iri positif? Bedanya, iri negatif ini bukannya menumbuhkan dorongan untuk mencapai hal yang sama, namun justru menghilangkan kegembiraan sehingga hati mengalami kekosongan. Yang muncul adalah perasaan bertanya-tanya, “Tuhan kenapa aku tidak kau beri yang seperti itu?” Kalau kita mengalami iri, lalu kita ingin mencapai prestasi seperti orang lain, itu berarti iri positif. Kalau kita iri, lalu kita menjadi kesal dan marah-marah kepada Tuhan, nah ini yang namanya iri negatif! Yang positif akan menumbuhkan dorongan untuk maju, yang negatif justru menghilangkan kegembiraan dan hanya menumbuhkan kekesalan.

Yang ketiga adalah iri merusak (dengki), inilah jenis iri negatif yang disertai dengan harapan dalam hati agar sesuatu yang membuat iri tersebut hancur. Misalnya iri melihat orang lain karirnya begitu cemerlang, lalu muncul dalam hati ini sebuah harapan agar orang tersebut terkena batunya dan berakibat karirnya anjlok kembali. Jenis dengki ini akan disertai kegembiraan yang luar biasa manakala orang lain yang diirikannya mengalami musibah dengan kehilangan nikmat yang membuat iri tersebut. Misalnya iri melihat teman kerja punya istri cantik, lalu ketika istri cantik itu mengalami sakit leukemia, eh si dengki ini menjadi terhibur, syukurin luh begitu kata hatinya. Jelas orang pendengki ini sangatlah jahat, karena harapannya tersebut bisa menjadi energi negatif yang terpancarkan kepada orang lain. Itulah sebabnya dalam kitab suci Al Qur’an surat Al Falaq terkandung doa berlindung dari kebencian orang yang dengki (hasad) seperti ini.

Jadi boleh tidak kita iri dengan orang lain yang punya pasangan cantik misalnya? Ya boleh! Pertanyaannya adalah apakah iri itu menimbulkan dorongan untuk memiliki pasangan cantik (dan karena itu Anda bersungguh-sungguh mencarinya), atau hanya menimbulkan kekesalan kepada Tuhan karena tak juga memberi Anda pasangan yang cantik, atau yang paling berbahaya adalah menjadi dengki dengan orang lain yang punya pasangan cantik (karena kita kebetulan naksir gadis yang sama!) sehingga muncul dalam hati ini agar nikmat orang tersebut hancur berantakan (semoga pisah lagi, demikian doa orang yang dengki). Contoh pasangan cantik ini diambil karena iri hati ini paling mudah muncul ketika membanding-bandingkan pasangan. Harta, tahta, dan wanita kabarnya adalah hal yang paling banyak diinginkan orang sehingga menjadi sumber paling utama dari munculnya rasa iri, positif maupun negatif.

Penawar iri

Jadi bagaimana kalau kita dihinggapi rasa iri? Sebuah jawaban yang membuat saya terkesan ada di buku karya ulama Al-Ghazali yang kalau tidak salah berjudul Rahasia Shalat. Diceritakan tentang seorang raja yang berkeliling di wilayahnya dan kemudian bertemu dengan seorang rakyatnya yang miskin papa. Alkisah, si raja yang baik hati itu kemudian memberikan rumah kepada orang tersebut. Tak lama kemudian datanglah orang lain yang juga miskin papa, kali ini sang raja memberinya seekor kuda putih yang sangat bagus.

Lalu orang pertama tersebut protes kepada raja, “Raja, kenapa kau beri orang itu kuda putih yang bagus?”

“Memangnya kenapa?” tanya raja keheranan.

“Raja,” kata orang pertama tadi,” bukankah aku yang punya rumah lebih pantas bila juga memiliki kuda putih itu? Bukankah lebih pantas bila kuda dipasangkan dengan rumah sehingga menjadi lengkap?” demikian jelas orang tersebut.

Apa yang Anda rasakan ketika mendengar argumen orang ini? Memalukan! Jelas sangat tidak pantas, seseorang yang hanya diberi rumah (sudah untung diberi rumah oleh raja, dan itu juga karena kemurahan hati sang raja bukan karena prestasi orang tersebut), eh masih pula minta kuda. Benar-benar tak tahu malu, diberi hati minta ampela. Memangnya dia punya prestasi apa sehingga sang raja ‘wajib’ memberi pula dia kuda? Memangnya apakah salah kalau raja memberikan kuda putihnya untuk orang lain? Kalaupun dia berprestasi, memangnya raja harus memberi kuda? Memangnya raja sudah janji demikian?

Itulah analogi yang pas sekali dengan kehidupan kita ini. Selama ini semua yang kita dapat dan kita miliki sering dianggap murni prestasi kita. Memangnya Tuhan tidak punya peran? Selama ini juga kita selalu merasa berhak atas suatu hasil sesuai dengan keinginan kita. Memangnya Tuhan menjanjikan secara jelas hal itu? Kalau kita pintar, memangnya Tuhan menjanjikan kita akan kaya? Kalau kita tampan, memangnya Tuhan berjanji memberi istri cantik? Bahkan kalau kita berdoa memangnya Tuhan janjikan akan dikabulkan selalu dalam bentuk yang kita minta? Tidak ada janji seperti itu. Yang ada adalah, bila kita berilmu maka Allah akan mengangkat derajat kita, dan itu bukan berarti berwujud kekayaan. Derajat yang tinggi (di mata Tuhan) bukan berwujud kekayaan, pangkat yang tinggi, atau ketenaran. Kalau menurut saya, derajat yang tinggi salah satunya adalah nama baik seseorang, yang karena keberadaannya itu orang lain di sekitarnya menjadi senang dan diam-diam bersyukur karena orang tersebut ada dan mendoakannya. Itulah janji yang Tuhan berikan, bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya. Janji Tuhan lainnya adalah kalau kita bertakwa, maka akan diberi jalan keluar dari kesulitan dan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Janji Tuhan juga bila kita meminta pasti dikabulkan, asalkan kita menjalankan perintah-Nya, namun tidak dijanjikan diberi dalam bentuk seperti kemauan kita. Tidak pernah Tuhan janjikan wujud-wujud fisik, namun yang dijanjikan adalah yang non-fisik seperti derajat di mata Tuhan dan pertolongan atas kesulitan-kesulitan dalam kehidupan. Dan janji Tuhan itu pasti ditepati.

Jadi kalau kita mengalami iri negatif (berupa munculnya protes kepada Tuhan kenapa kita tidak diberi nikmat seperti orang lain, atau bahkan dengki yaitu harapan agar orang lain kehilangan nikmat yang dimiliki) tentu ini disebabkan karena : kita merasa berhak atas nikmat itu! Perasaan ini bisa muncul dari kesombongan (merasa lebih baik daripada orang lain), serta menganggap dunia ini serba berkekurangan (sehingga kalau nikmat itu sudah jatuh ke orang lain, maka akan berkurang jatah nikmat untuk kita).

Ada tiga kiat sederhana untuk mengelola iri hati.

Kiat pertama, cukup dengan bertanya kepada diri sendiri, “Memangnya siapa aku ini, boleh merasa lebih tahu dari Tuhan?” Memangnya siapa aku ini yang bisa menganggap bahwa wajah tampan harus ketemu wajah cantik, otak pintar ketemu dengan pangkat tinggi, kerja keras harus ketemu dengan kekayaan? Memangnya siapa aku ini merasa punya hak menuntut hadiah dari ‘Sang Raja’ sesuka-suka hati?

Dulu sekali ada teman saya yang berwajah biasa-biasa saja, eh istrinya cantik. Hebohlah teman-teman yang lain (termasuk juga saya, haha). Lalu saya berpikir, emangnya siapa saya yang merasa pantas menilai si anu harus menikah dengan si anu. Si anu karena cantik mestinya memilih si anu yang tampan, biar pantas. Sejelek-jeleknya milih saya saja, jangan si itu. De el el. Memangnya siapa saya ini, yang bisa membuat keputusan bagi orang lain (ya si gadis cantik itu) dalam menentukan cintanya? Memangnya siapa saya ini, yang pantas menilai bahwa si anu itu karena tidak tampan maka tidak berhak istrinya cantik? De el el. Jadilah saya sadar diri, ini gangguan iri negatif, isi hasutan buruk dalam hati. Astaghfirullah. Kalau memang ingin, ya cari, usaha saja, nggak usah iri.

Kiat kedua, kita harus yakin bahwa nikmat Tuhan itu berkelimpahan. Dunia ini serba berkelimpahan. Kalaupun banyak orang lain sudah diberi nikmat, Tuhan masih punya banyak jatah stok buat kita ini. Tuhan Maha Kaya, tak pernah kekurangan. Jadi tak pelu bersikap negatif dengan milik orang lain, biar saja, toh masih banyak stok buat kita. Pertanyaannya adalah, harus menjadi seperti apa kita agar Tuhan memberi hadiah nikmat yang sama buat kita? Biarkan saja orang lain dengan apa yang dimilikinya, kalau juga ingin lebih baik kita fokus pada mengusahakan nikmat buat kita sendiri. Dunia ini berkelimpahan. Kalau rumput tetangga tampak lebih hijau, coba evaluasi jangan-jangan kita memang tidak merawat rumput kita dengan baik. Sirami dong. Kalau ternyata memang tanah kita tandus, ya dipupuk, kalau memang susah dipupuk, ya berhijrahlah (berpindahlah), siapa suruh Anda di situ? Jangan-jangan rumput kitapun sama hijaunya, tapi kita tidak sadar!

Pernah saya berpikir, kok saya ini milih kerja jadi guru. Kan enak kalau kerja di perusahaan besar. Seorang teman pernah berkomentar, “Orang sepintar kamu ini karirnya pasti bagus di perusahaan besar,” katanya memberi sugesti. Lah, jangan-jangan iya! Tapi, jangan-jangan tidak juga. Saya memiliki ‘kemewahan-kemewahan’ saya sendiri dengan kondisi yang sekarang, yang mungkin akan berbeda ketika bekerja di perusahaan besar itu. Tapi, jangan-jangan di perusahaan besar juga memang betul enak kondisinya (jadinya saya iri). Nah, kan sama-sama tidak tahu. Jadi, kalau memang tidak puas dengan kondisi sekarang (karena tanahnya tandus), dan tidak juga menemukan cara membuat lebih enak (dipupuk tetap tandus), ya pindah saja. Memangnya siapa suruh saya di sini? Ternyata jawabannya : saya yang memilih untuk di sini, jadi guru. Dan setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing. Kalau tidak suka dengan konsekuensinya, ya silahkan pindah saja, dunia ini luas.

Kiat ketiga. Pilih-pilih apa yang membuat kita iri. Maksudnya, pilih saja sesuatu yang bisa kita pengaruhi kondisinya. Misalnya, iri terhadap prestasi orang lain. Prestasi bergantung pada usaha kita, jadi kalau kita iri terhadap prestasi orang lain kita bisa mengusahakan hal yang sama seperti orang lain itu. Yang salah misalnya, iri pada ketampanan Tom Cruise. Ketampanan itu sudah pemberian dari sono, sedikit sekali pengaruh dari usaha kita.

Secara tak sadar kita sering membandingkan, wah si anu mobilnya bagus, dia memang kerja di Telkomsel (misalnya). Kalau Anda juga di Telkomsel tentunya Anda layak membandingkan demikian. Kalau tidak di Telkomsel, ya jangan dibandingkan, kondisinya beda kok. Kalau Anda dosen, ya pantasnya membandingkan diri dengan dosen yang lain. Kalau Anda karyawan perusahaan besar, ya bolehlah membandingkan dengan karyawan yang lain. Tentu saja kita pilih pembandingan yang bisa kita pengaruhi, dengan tujuan untuk mendorong diri kita ini agar juga punya prestasi yang sama. Memilih untuk membandingkan kecantikan atau ketampanan pasangan termasuk jenis pembandingan yang keliru. Kan setiap orang dikaruniai fisik yang berbeda dan kondisi yang beda? Nah, ketampanan itu adalah sesuatu yang unik sehingga tak layak dibandingkan. Lebih tepat kalau kita membandingkan bahwa si anu itu merawat diri (berhias, tampil cerah), yang kemudian kita ikuti dengan prestasi yang sama (merawat diri, tampil cerah). Karena mampu kita pengaruhi, maka iri hati tersebut dapat kita ubah menjadi iri positif.

Jadi 3 kiat sederhana itu adalah : rendah hati terhadap pemberian Tuhan (jangan suka menilai, bertindaklah netral), yakin nikmat itu berlimpah (masih banyak nikmat buat kita, hindari dengki), dan benar memilih pembandingan yang layak (yaitu yang bisa kita pengaruhi).

Iri itu boleh kok. Iri hati positif itu boleh, sedangkan iri hati negatif itu yang dilarang. Jadi, kalau kita mengalami rasa iri, yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa boleh jadi kita ini memang belum pantas atas nikmat itu. Yah, mungkin saja karena berbagai hal yang kita tidak tahu, dan Tuhan yang lebih tahu tentang itu. Selanjutnya, kita coba ubah semua bentuk iri negatif itu menjadi iri positif, yaitu dorongan untuk berprestasi maksimal yang mudah-mudahan membuat Tuhan berkenan lalu memberi kita hadiah yang sama. Iri positif itu dianjurkan loh, bukankah ada hadits, “Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” Nah, kalau iri terhadap prestasi amal orang lain, jelas ini iri yang sangat positif.

Jadi, selamat menjadi iri, iri yang positif!

(Heh, tulisan ini kok jadi panjang sekali. Maaf kalau capek membacanya.)

http://sepia.blogsome.com

Puzzle kehidupan dan lari marathon

Apa sih bedanya lomba lari 100 meter dengan marathon? Garis finish-nya. Garis finis lomba lari 100 meter kelihatan di mata. Garis finis marathon hanya bisa dilihat dengan pikiran, karena berada 40 kilometer dari titik awal.

….

Seorang teman saya menceritakan kejadian berikut ini kepada saya. Pada suatu malam, anak perempuannya yang berumur delapan tahun berusaha keras mengerjakan jigsaw puzzle. Dia sudah mengerjakannya berjam-jam tetapi tidak berhasil. Akhirnya, waktu tidurnya sudah lewat. Teman saya berkata kepada anaknya, “Nak, kenapa kamu tidak menyerah saja? Ayah rasa kamu tidak akan menyelesaikannya malam ini. Kerjakanlah lagi besok.” Anaknya memandang dengan tatapan aneh di matanya, “Tapi ayah, kenapa aku harus menyerah? Semua kepingnya ada di sini. Aku hanya harus menyatukannya!”

Demikian cerita dari Azim Premji yang dikutip dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, “Bill Gates” Muslim dari India (terbitan Mizania 2007).

Hidup ini bagaikan puzzle. Semua kepingnya sudah ada, tinggal kita satukan. Tuhan Yang Maha Adil tentu sudah menyiapkan semua keping itu bagi setiap makhluk-Nya, sesuai tantangannya masing-masing. Tugas setiap kita mencari tahu kira-kira apa bentuk akhir puzzle kita (misi kita) dan kemudian mulai menyusunnya.

Mungkin bentuk akhir puzzle kita bisa beberapa macam (kita diberi kesepatan memilih), ada yang mudah menyusunnya, ada pula yang sulit. Kalau kita berada pada jalur yang tepat (dengan bakat dan kesempatan yang diberikan) maka membuat puzzlenya menjadi mudah.

Si anak perempuan itu benar, mengapa kita harus menyerah? Toh semua kepingnya sudah ada? Si ayah pun benar, walau kepingnya sudah tersedia, tetap ada hak tubuh dan jiwa kita untuk berhenti sejenak, tidur.

….

Apa sih bedanya lomba lari 100 meter dengan marathon? Garis finish-nya.

Hidup ini juga bagaikan lari marathon. Garis finishnya tak tampak, kita hanya bisa melihanya melalui pikiran. Kita yang membayangkan garis finisnya, kira-kira dimana, bagaimana bentuknya, kemudian mulai berlari pelan-pelan. Tak perlu ngotot ngebut, karena ini bukan lari 100 meter. Larilah dengan irama, agar kuat menempuh berkilo-kilo meter perjalanan. Lari marathon ini memerlukan iman yang lebih kuat, karena garis finishnya tak kelihatan itu.

Kita menempuh marathon kehidupan dengan garis finish menyusun lengkap keping-keping puzzle kehidupan. Garis finish itu hanya dapat dilihat melalui pikiran, yaitu pikiran Anda. Dan Anda bebas untuk memilih bentuk akhirnya.

http://sepia.blogsome.com

aku terlahir 500 gr dan buta

Demikian judul buku terbitan Elex Media yang dipinjam anakku dari gurunya.

Ini buku kisah nyata Miyuki Inoue, yang terlahir prematur hanya 0,5 kg dan harus di inkubator sangat lama hingga akhirnya buta karena pengaruh oksigen berlebihan.

Ibunya dengan menangis berjanji untuk membesarkannya dan mencintai sepenuhnya. Dan janji itu ia buktikan dengan mengasuh anaknya melalui caranya sendiri. Miyuki dididik dengan sangat-sangat keras, hingga ia menyebut ibunya “Ibu setan” karena kalau Miyuki tidak patuh pasti dipukul oleh ibunya.

Melalui kegigihan untuk belajar bertahun-tahun (dengan dorongan keras dari ibunya yang berkemauan kuat dan cerewet), akhirnya Miyuki berhasil meraih banyak prestasi. Salah satunya adalah menjadi juara lomba menulis cerpen tingkat nasional Jepang. Miyuki juga bisa menyelesaikan SMA, berpidato, bahkan bersepeda! (ingat, Miyuki buta)

Istri saya pun menangis terharu membaca kisah Miyuki. Kalau kita merasa sebagai orang termalang di dunia (dengan persoalan-persoalan kita, yang biasanya masalah cinta), ingatlah Miyuki yang berprestasi dengan kebutaannya itu.

Kebetulan beberapa waktu lalu anak saya malas belajar di rumah. Kami memberi kewajiban baginya untuk belajar 15 menit, apa saja, di antara pukul 18.30 hingga 19.00. Karena dia baru saja membaca kisah Miyuki, saya mencuri kesempatan untuk bilang kepadanya, “Kalau orang tua menyuruh anaknya belajar sungguh-sungguh, itu bukan karena jahat, tapi karena betapa cintanya orang tua ke anak. Orang tua ingin sang anak jadi mandiri, sehingga dia menjadi mampu kelak di saat orang tuanya sudah meninggal.” Begitulah pula yang dikatakan ibu Miyuki, mengapa dia begitu kerasnya terhadap anaknya, hingga cuek saja disebut ibu yang kejam oleh tetangga-tetangganya. Ia bilang, kalau Miyuki tidak kuat, lalu siapa yang akan merawatnya kalau ibunya meninggal? Cita-cita ibunya sederhana, ia ingin Miyuki segera menemukan pasangan hidupnya dan berkeluarga.

Anak saya mengerti apa yang saya sampaikan. Di catatan dia tentang buku itu, anakku menulis … Miyuki hebat!

Prestasi Miyuki :

1984 Pada tanggal 21 Agustus aku lahir di Kota Kurume propinsi Fukuoka.

1988 masuk TK Megumi.

1991 Masuk SLB Fukuoka program SD.

1997 Masuk SLB Fukuoka program SMP. Menjadi anggota OSIS waktu kelas satu dan dua SMP.

Memenangkan lomba mengarang antar sekolah dengan judul pidato Air Mata Ibu.

Memenangkan lomba mengarang tingkat propinsi dengan cerpen berjudul Air Mata Ibu.

1998 Memenangkan lomba mengarang tingkat Kyushu dengan cerpen berjudul Air Mata Ibu.

1999 Memenangkan lomba mengarang Nasional Kanpo dengan cerpen berjudul Diriku dalam Genggaman.

Cerpennya yang berjudul Ikatan dimuat dalam antologi cerpen bertema HAM, hak Asasiku.

Memenangkan lomba debat nasional.

2000 Menerima penghargaan pendidikan kebudayaan Fukuoka pada bulan Februari. Masuk SLB Fukuoka program Sekolah Menengah Atas pada bulan April.

Autobiografi berjudul Aku Terlahir 500 gr dan Buta, diterbitkan pada bulan Juli.

2001 Autobiografi berjudul Aku Bisa Naik Sepeda diterbitkan.

2002 Autobiografi berjudul Usiaku 17 Tahun dan Sehat diterbitkan.

2003 Lulus dari SLB Fukuoka program SMA pada bulan maret masuk SLB Fukuoka program Akademi Keperawatan.

Sekarang sedang mendalami bidang keperawatan dan pemijatan.

http://sepia.blogsome.com

KAPAN MENYERAH

Keran air di dapur bocor. Lalu diganti. Agar cukup panjang ke tengah wastafel, penjual keran menyarankan penyambungan pipa, kira-kira 5 cm. Saya nurut saja. Ternyata, jebol. Air tumpah ruah di dapur. Maka diputuskan membuang kembali sambungan pendek itu. Sulit ternyata, karena ulir penyambung dari pipa plastik itu rusak di bagian kunci pas yang kalah kuat bertemu dengan kunci pas dari besi.

Satu jam berusaha memperbaiki keran, saya putuskan menyerah. Waktu saya lebih penting buat mengerjakan hal lain. Urusan keran, serahkan ke tukang. Maka dipanggilah tukang, sambungan dibongkar paksa oleh dia (dengan dipecah-pecah), dan beres. Bayar 10 ribu, beres juga. Everybody is happy.

Jalanan macet. Antrian panjang ini menyisakan tanda tanya panjang. Sudah satu jam dalam guyuran hujan. Ada apa? Lajur sebelah kiri saya tampak lebih lancar. Maunya sih tertib, bertahan pada jalur mobil yang sekarang. Tapi?

Lalu saya putuskan pindah jalur ke kiri. Sedikit lebih cepat daripada kanan. Dan sampailah ke tempat penyebab kemacetan. Ternyata ada bagian jalan yang banjir, karena selokan yang meluap. Di bagian itu mobil tiga jalur berubah menjadi dua (mungkin satu) jalur. Kenapa sih mobil-mobil (yang lebih bagus daripada mobil saya) itu takut dengan air? Saya perhatikan banjir tidaklah terlalu dalam. Maka saya trabas saja banjir itu, dan selamat juga (memang tidak dalam, kenapa pada menghindari ya?). Mereka yang masih antri di jalur kanan tampaknya akan masih lama menderita dalam antrian karena hal konyol ini.

Kapan pindah jalur?

Dalam hidup ini kita sering menghadapi dilema untuk memilih antara gigih bertekun-tekun, atau banting setir pindah jalur kehidupan. Sesungguhnya seorang pengayuh becak yang bertekun-tekun mengayuh lebih keras dan lebih jauh, belum tentu nasibnya menjadi lebih baik. Kerja keras tidak cukup. Terkadang terus gigih juga berakhir menyesatkan. Kapan kita sebaiknya menyerah?

Ini sekedar prinsip sederhana. SEGERALAH MENYERAH bila METODE Anda GAGAL. Namun TERUSLAH GIGIH MEMEGANG TUJUAN.

Kita harus segera menyerah bila metode yang kita lakukan menunjukkan tanda-tanda kegagalan. Saat jalur macet, maka mungkin memang jalur tersebut (metode tersebut) menghadapi masalah (ada mobil mogok, lubang di jalan, banjir, pasar kaget). Jadi, jangan ragu untuk pindah jalur. Tapi kita tetap gigih memegang tujuan (yaitu kemana Anda akan pergi dengan mobil itu). Tujuan harus gigih dipertahankan, metode harus fleksibel. Terus ngotot dengan tujuan, segera menyerah dengan metode (yang gagal).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  1. Tujuan yang jelas (kita harus gigih memperjuangkannya)
  2. Jangka waktu evaluasi (Jangan cepat menyerah dalam waktu pendek, jangan juga kukuh bertahan padahal jelas-jelas gagal. Berikan waktu yang cukup. Intuisi Anda bisa membimbing untuk hal itu.)
  3. Terbuka terhadap metode alternatif. Metode bukanlah tujuan, dia hanya alat, jadi jangan terlalu ngotot menggunakan satu metode. Banyak jalan ke Roma.

Pada kasus keran air, tujuannya adalah keran air yang tidak bocor. Metodenya adalah dikerjakan sendiri. Setelah satu jam dikerjakan (lama waktu evaluasi) dan muncul masalah baru (sambungan yang rusak), maka sebaiknya menyerah dengan metode yang sedang dijalankan. Ganti metode lain (panggil tukang). Pada kasus kemacetan, pulang ke rumah adalah tujuan. Memilih jalur kanan adalah metode. Ketika metode menunjukkan kegagalan (sudah satu jam dalam antrian), maka segeralah pindah metode lain (jalur kiri yang lebih lancar).

Dalam kehidupan ini kita semua memilih jalur masing-masing. Bila Anda tak puas dengan kondisi sekarang, siapkah mental Anda untuk berpindah jalur? Jangan-jangan jalur yang sekarang Anda tempuh memang macet di depan.

http://sepia.blogsome.com


KEUANGAN KODOK MATI DIREBUS

Kodok adalah hewan berdarah dingin. Kabarnya (saya belum mencoba sendiri) kalau kodok dimasukkan air dalam panci, kemudian dipanaskan pelan-pelan, maka si kodok akan terebus tanpa sadar, bahkan tidak pernah ingin melompat keluar. Ini dikarenakan suhu kodok ikut menyesuaikan dengan lingkungan sekitar secara perlahan, sehingga kodok tidak sadar bahwa air sekelilingnya sudah sedemikian panas sampai merebus dirinya.

Manusia, kita ini, makhluk berdarah panas. Artinya suhu badan kita relatif tetap. Namun dalam urusan keuangan sering kita bagai kodok berdarah dingin, tidak sadar kalau pelan-pelan pengeluaran terus naik sampai tiba-tiba matang terebus oleh hutang.. Biasanya diawali dengan penghasilan yang tiba-tiba meningkat, entah karena bonus akhir tahun, punya kartu kredit baru, atau disetujui dapat pinjaman ‘lunak’ dari bank. Karena ‘merasa’ punya uang, maka rencana belanja pun meningkat tak terasa. Tiba-tiba sudah pusing menghadapi pusing.

Salah satu kiat menghindari terjerat hutang ‘yang tak terkendali’ adalah dengan mempunyai indikator keuangan yang mudah dipantau. Konsepnya sederhana namun mewujudkan tidak mudah.

Beberapa cara bisa ditempuh untuk mengendalikan keuangan seperti contoh berikut ini yang pernah saya lakukan.

Cara satu. Membagi uang ke dalam beberapa amplop. Ini cara yang banyak dianjurkan buku-buku manajemen keuangan. Dengan membagi uang ke dalam amplop sebenarnya secara tidak langsung kita telah melakukan perencanaan keuangan. Kelemahan cara ini adalah tidak mudah dipantau dan kaku. Biasanya cocok untuk uang yang tunai di tangan. Dengan perubahan budaya dimana uang kita lebih banyak tersimpan di ATM, maka metode ini perlu dikombinasikan dengan metode lain.

Cara lain adalah dengan mencatat pengeluaran. Yang pernah saya lakukan adalah mengantongi sebuah notes kecil (beli di warung dengan harga 1500 rupiah). Sayangnya posisi keuangan tidak langsung diketahui sebelum kita melakukan perhitungan. Maka selanjutnya catatan itu dihitung secara periodik baik memakai kalkulator maupun spreadsheet di komputer. Sejujurnya, cara ini ‘butuh tekad kuat’ (melelahkan?) dan akhirnya saya tinggalkan.

Percobaan berikutnya adalah menginstall software keuangan di komputer. Setelah pusing mencoba-coba MS Money sampai DAC Easy, akhirnya pilihan jatuh pada Simply Accounting , justru karena sederhana dan lebih intuitif bagi seorang awam seperti saya ini. Dikombinasikan dengan buku kas maka hasilnya memang very good. Buku kas diisi setiap malam, dan di akhir minggu dimasukkan ke software untuk dikalkulasi. Cara ini masih punya kelemahan karena tidak bisa dimonitor secara instan.

Karena perlu monitor secara langsung maka saya membuat alat bantu visual dari papan softboard dengan pin sebagai pengganti jumlah uang. Hasilnya sangat efektif untuk perencanaan dan pengelolaan uang! Setiap saat kita bisa melihat posisi uang dan budget yang sudah dibelanjakan. Kekurangan alat ini adalah ketika memantau transaksi besar (jutaan) karena setiap pin ditujukan hanya untuk simbol pecahan 20 atau 50 ribuan.

softboard keuangan

Softboard Visualisasi Keuangan

Akhirnya saya menggunakan ponsel untuk membantu mengelola diri. Saat pakai N9500 saya membuat aplikasi seperti excel untuk mencatat keuangan. Lumayan membantu.

Kini saya gunakan solusi yang paling praktis. Kebetulan Nokia saya rusak, lalu saya ganti dengan ponsel yang jauh lebih murah tapi powerful yaitu Sony Ericsson M600i yang kecil tapi punya tombol QWERTY dan sekaligus pena stylus (ini ponsel model PDA). Harga beli baru 1,75jt jauh lebih murah dibanding Nokia Communicator maupun ponsel PDA umumnya yang sekitar 4jt an.

Kemudian saya temukan orang baik hati membuat aplikasi akuntansi sederhana bernama Jabp . Program ini cukup sederhana dan intuitif bagi awam. Tentu saja masih diperlukan pengetahuan istilah akuntansi paling dasar. Software Jabp bisa digunakan untuk berbagai jenis ponsel termasuk Nokia communicator, PocketPC, juga Psion. Karena saya pakai model PDA (UIQ3) maka ada keuntungan pena stylus yang memudahkan posting. Hasilnya sangat efektif! Saya merekomendasikan software ini buat Anda yang punya smartphone (daripada cuma dipakai untuk SMS dan mendengarkan musik).

Beberapa pokok perting yang saya dapatkan dari berbagai pengalaman :

  1. semakin mudah anda pantau maka semakin baik.
  2. hindari anda yang menghitung, kalau bisa gunakan software
  3. akan lebih baik bisa terus anda bawa-bawa.

Saya merekomendasikan bagi anda yang tidak punya smartphone untuk menggunakan metode amplop atau papan softboard. Terutama karena prosesnya sederhana, hanya memindah uang dari amplop ke amplop, atau memindah pin di softboard dari satu kotak ke kotak lainnya.

Kalau anda punya anggaran buat beli ponsel bagus, belilah smartphone dan install Jabp. Akan lebih baik bila bentuk PDA yang pakai pena stylus karena sangat memudahkan posting.

Apapun trik yang anda pilih, intinya adalah uruslah keuanganmu agar tidak menjadi kodok rebus!

Main saja yang bagus, lihat skor sekali-sekali

Kalau kita mengendarai motor atau mobil, kemana mata kita menuju? Tentu ke jalan di depan kita. Sekali-sekali lihat speedometer. Kalau kita main futsal, kemana mata kita menuju? Tentu ke pergerakan bola. Sekali-sekali lihat papan skor. Kalau dalam hidup ini, kemana perhatian kita menuju? Nah, yang ini lain orang mungkin lain jawabannya.

Ada yang perhatiannya tersita dengan pekerjaannya. Ada yang sepanjang hari, 7 hari seminggu, hanya mengeluhkan mengapa tidak juga berhasil meraih mimpi-mimpinya. Tentu saja Anda bisa tebak jawaban bijaknya : ya tengah-tengahlah, fokus ke pekerjaan dan juga mengevaluasi hasil pencapaian.

Mari jujur pada diri sendiri? Kapan terakhir Anda melihat skor permainan? Lupa. Atau mungkin belum pernah. Kalau kita tidak melihat skor permainan, bagaimana kita tahu bahwa strategi bermain kita sudah bagus? Jangan-jangan skor kita buruk terus.

Sebaliknya, jangan sering-sering lihat skor. Nanti Anda dag-dig-dug terus, meratap, atau stress karena skor yang buruk (bisa juga takabur dan puas diri karena skor yang indah!). Skor selalu bersifat sementara. Dia menjadi final saat permainan usai (artinya, nanti saat kita mati). Skor akan naik, juga akan turun. Kita menggunakan skor untuk melihat apakah cara kita bermain masih cukup baik. Skor yang makin baik artinya cara main kita makin baik pula (mestinya begitu).

Merujuk Brian Tracy, ada 7 bidang kehidupan yang perlu kita evaluasi skor nya, yaitu :

  1. Spiritual : bagaimana kita sebagai makhluk Tuhan (ibadah langsung, ibadah tak langsung, dll)
  2. Personal : bagaimana kita tumbuh sebagai individu (intelektual, interest, dll)
  3. Cinta : bagaimana kita mencintai dan dicintai (orang tua, pasangan, anak, dll)
  4. Kesehatan : bagaimana kesehatan fisik dan jiwa kita
  5. Finansial : bagaimana keuangan dan daya beli kita
  6. Karir : bagaimana aktualisasi prestasi kita
  7. Sosial : bagaimana interaksi dengan manusia dan makhluk lain

Biasanya sih, orang hanya perhatian pada masalah skor keuangan dan karir. Hal lainnya lupa dievaluasi skor nya. Bagaimana skor hubungan cinta kita dengan pasangan? Bagaimana skor kehidupan sosial kita? Bagaimana dengan kesehatan? Cobalah diberi skor 1 – 10. Yang skor nya rendah tentu perlu perhatian. Memang menurut Brian Tracy, skor finansial yang kacau akan berpengaruh besar terhadap skor lainnya.

Bila skor nya sudah diketahui. Mari sejenak abaikan skornya, dan mulai fokus kembali kepada permainan. Bermain dengan sungguh-sungguh, tentu dengan strategi baru yang lebih bagus. Kalau kita fokus untuk bermain dengan sungguh-sungguh dan bagus, skor nya akan mengikuti dengan sendirinya. Jadi, setelah meninjau gaji kita yang tak juga naik (hehe), mari bikin rencana baru, lalu mainkan dengan sungguh-sungguh. Lupakan sejenak keprihatinan akan gaji yang tak juga naik itu. Main saja yang bagus, dengan strategi baru. Nanti, setelah sekian lama main, kita lihat kembali skor nya. Kalau mainnya bagus, harapannya bisa lebih banyak gol. Skornya pun naik.

Lah, gimana kalau setelah main bagus skor nya tetap rendah? Jangan-jangan salah main, main gaya futsal padahal sedang permainan basket?

Dede Haya

Dede Haya
1 hari setelah lahir

lagi diisengin ma siapa yaa..........



ummi dan dede haya

lagi bobo

Taaruf dulu ya......

Perkenalkan Nama Saya : ATIKAH HAYA MUFIDAH
Allah telah mengizinkan saya lahir melalui rahim ummi pada tanggal 25 Maret 2008 pukul. 20.05 di sebuah rumah sakit bersalin di Cipulir.
Berat saya : 3,3 kg
Panjang saya : 47 cm
Nama Abi : Wahyudi
Nama umi : Ismiyati

Alhamdulillah setelah agak betah di dalam rahim umi akhirnya
saya pun menghirup udara di luar.

karena dalam masa penyesuaian, saya selalu menangis ketika saya lapar dan terkadang saya diam saja kalau popok saya basah, malu sama abi n umi.

Ada yang bilang kalau saya ini anak mahal, saya pikir semua anak sama saja, toh itu yang terbaik yang Allah berikan kepada kami.

Kata pertama : ATIKAH diambil dari seorang sahabiyah yang bernama Atikah binti zaid yang merupakan istri dari Abdullah bin Abu bakar. setelah Abdullah bin Abu Bakar meninggal dunia diperistri oleh sahabat nabi yang lain yakni Umar bin Khatab. Pun ketika Umar Bin Khatab syahid. beliau diperistri oleh Zubair bin Awwam yang menyusul syahidnya Umar bin Khatab.

itu baru sedikit, nanti dilanjutkan lagi yah

kata kedua adalah HAYA
dalam bahasa indonesia artinya putri, yah memang kenyataannya aku seorang putri.

kata terakhir adalah MUFIDAH
dalam bahasa Indonesia artinya yang memberikan faidah/manfaat. Abi memberi nama seperti itu karena ingin suatu saat aku dapat memberi manfaat kepada keluarga dan ummat, karena sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Amin,

Dah dulu ya Ammah, nanti aku sambung lagi.

20 cara menguatkan iman

20 Cara Menguatkan Iman Anda

Oleh: Mochamad Bugi
Email This Post

dakwatuna.com - “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”

Begitulah perintah Allah kepada kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang naik dan kadang pasang surut.

Ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (Ahmad)

Begitulah kondisi hati kita. Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah (at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365)

Karena itu Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)

Hati kita akan kembali pada kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)

Bagaimana cara memperbaharui iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.

1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran

Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).

Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”

2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.

Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-’Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.

Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)

3. Carilah ilmu syar’i

Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.

Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.

Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.

4. Mengikutilah halaqah dzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”

Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)

Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.

5. Perbanyaklah amal shalih

Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)

Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)

Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)

Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)

6. Lakukan berbagai macam ibadah

Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.

Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.

Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)

7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah

Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.

8. Banyak-banyaklah ingat mati

Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)

Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)

Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.

Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.

9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat

Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.

Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.

10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam

Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)

Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”

11. Berdzikirlah yang banyak

Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)

Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”

12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya

Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)

Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.

13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk

Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.

Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)

“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)

14. Memikirkan kehinaan dunia

Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)

Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)

Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.

15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah

“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)

Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.

Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”

16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’

Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.

Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.

17. Bersikap tawadhu

Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)

Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)

Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.

18. Perbanyak amalan hati

Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)

19. Sering menghisab diri

Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)

Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.

20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman

Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”

Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.